Senin, 30 Oktober 2017

Serba-serbi Honor Menulis di Media Masa

Senggang

Serba-serbi Honor Menulis di Media Masa

Oleh Ririn Handayani (dikutip dari KOMPASIANA) 


Honor merupakan salah satu bagian terpenting dalam dunia menulis khususnya untuk tulisan di media cetak. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya tentang masalah honor menulis. Tulisan ini sekaligus mencoba menjawab pertanyaan seputar masalah ini yang diajukan beberapa teman pada saya. Bahasan saya khususkan berdasarkan pengalaman pribadi (yang belum terlalu banyak menembus media), dan lebih khusus lagi untuk media cetak Koran.

1.Apakah setiap media (khususnya Koran) memberikan honor untuk tulisan yang dimuat?

Sebagian besar media memberikan honor khususnya untuk Rubrik Opini atau sejenis yang memang disediakan untuk publik. Selain Opini, rubric lain yang sering juga diberi honor adalah Rubrik Resensi dan opini singkat seperti rubric Gagasan di Jawa Pos. Kompensasi lain yang biasanya yang juga diberikan media kepada penulis kadang berbentuk barang/merchandise atau voucher. Biasanya media telah menyebutkan kompensasi apa yang akan mereka berikan untuk setiap tulisan yang dimuat bersamaan dengan keterangan ke mana tulisan bisa dikirim dan persyaratan teknisnya. Meski sebagian besar media memberikan kompensasi untuk setiap penulisan yang dimuat baik berupa uang atau barang, ada pula media yang memang tidak menyediakan kompensasi apapun, biasanya Koran lokal atau media online.

2.Perlukah menyertakan alamat Rekening setiap mengirim tulisan atau menunggu tulisan dimuat terlebih dahulu?

Untuk tulisan yang sudah pasti mendapat honor, kita harus menyertakan no Rekening bersamaan dengan persyaratan teknis lain seperti scan KTP dan foto diri bersamaan dengan pengiriman tulisan. Beberapa media sudah mengharuskan penulisan no rekening sebagai salah satu persyaratan teknis yang harus dilakukan penulis. Bagaimana jika tidak ada kejelasan apakah media yang bersangkutan memberikan honor atau tidak? Saya biasanya tetap menyertakan no rekening. Ini saya lakukan untuk mempermudah urusan jika ternyata memang ada honor sehingga media tidak perlu repot menanyakan no rekening saya atau justru honor tidak dikirim-kirim karena tidak banyak media yang mau bersusah payah menanyakan no rekening penulis.

3.Berapa kisaran waktu honor akan dikirim?

Ini adalah pertanyaan yang cukup sering ditanyakan. Seperti telah saya sebutkan di awal, cerita yang akan saya paparkan hanya berdasar pengalaman pribadi dan sedikit pengalaman yang kebetulan saya ketahui. Kisaran waktu paling umum adalah antara 2 minggu sampai 2 bulan. Dari pengalaman saya, untuk tulisan yang pertama kali dimuat, biasanya lebih lama, bisa sampai 2 bulan baru dikirim. Kata beberapa teman, ini bisa terjadi karena data kita belum masuk dalam data base media. Saya mengalami ini hampir pada semua tulisan pertama yang dimuat. Biasanya untuk tulisan kedua dan selanjutnya, pengiriman honor akan lebih lancar. Sebab lain bisa jadi karena memang data kita ketlisut (dalam hal ini saya memaklumi orang yang mengurusi honor penulis juga manusiaJ) sehingga honor tidak dikirim-kirim. Dalam hal ini dituntut sikap proaktif kita untuk menanyakan hak kita sebagai penulis. Honor tidak dikirim-kirim bisa juga karena kesalahan kita sendiri, misalnya tidak menyertakan no rekening atau ada kesalahan penulisan.

4.Kapan waktu yang tepat untuk menanyakan honor yang tidak kunjung dikirim?

Berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman, waktu yang cukup ideal untuk menanyakan honor yang tak kunjung dikirim adalah antara 2-3 minggu setelah tulisan dimuat karena ini memang rentang waktu yang umum bagi media untuk mengirimkan honor penulis. Jika tulisan baru dimuat hari ini, jangan terlalu cepat mengecek rekening, hanya berselang beberapa hari atau satu minggu setelahnya karena hampir pasti honor belum dikirim. Dua minggu adalah waktu paling cepat untuk mengecek rekening apakah honor sudah dikirim atau belum. Jika belum, kita bisa bersabar satu minggu lagi atau kalau memang sudah tidak sabar, tidak mengapa langsung menanyakannya pada media yang bersangkutan.

5.Media apa yang paling tepat untuk menanyakan honor?

Ini sebenarnya masalah personal tapi untuk saya pribadi, saya lebih suka menanyakannya lewat email sama seperti email yang saya gunakan untuk mengirim tulisan. Jadi, saya menanyakannya ke Bagian Redaksi yang dulu menerima dan memutuskan memuat tulisan saya. Saya menjelaskan saya siapa, judul tulisan dan waktu pemuatan tulisan, dan saya jelaskan juga bahwa saya telah menunggu (misalnya sudah 2, 3 atau bahkan sudah 5 minggu) dari tanggal pemuatan. Sejauh pengalaman saya, redaksi cepat meresponnya. Jawaban yang saya terima antara lain permintaan maaf atas keterlambatan, akan segera meneruskan ke bagian keuangan bahkan biasanya mereka juga memberikan no telepon atau email bagian keuangan yang biasa mengurusi masalah honor. Biasanya saya langsung menanyakannya ke bagian keuangan melalui email yang diberikan redaksi. Lagi, saya kurang suka menanyakan langsung via telepon karena selain mahal menurut saya, itu tidak efisien karena belum tentu yang bersangkutan yang akan menerima langsung. Biasanya bagian keuangan akan cepat merespon email kita, memberikan penjelasan mengapa honor tidak dikirim atau kepastian kapan mereka akan mengirim. Kalau tidak ada respon dari bagian keuangan, biasanya menurut pengalaman saya, honor akan segera dikirim beberapa hari setelahnya. Telepon mungkin bisa jadi pilihan terakhir jika semua upaya di atas telah kita lakukan namun tidak ada respon apapun dari pihak media.

6.Apakah kita akan ditelepon jika honor sudah dikirim?

Ini juga pertanyaan yang sering ditanyakan, sama dengan pertanyaan apakah kita akan ditelepon/diberitahu kalau tulisan kita akan dimuat. Berdasarkan pengalaman saya, sangat sedikit media yang menelepon penulis (apalagi penulis pemula) untuk memberitahu bahwa tulisan mereka akan dimuat atau honor sudah dikirim. Jadi kita dituntut untuk punya inisiatif sendiri dan bersikap proaktif. Ini bagian dari sikap professional seorang penulis.

Karena proses di atas cukup lama, umumnya honor dikirim paling cepat dua minggu dan bisa dua bulan untuk tulisan pertama, kita harus ekstra sabar. Baik terhadap waktu tunggu yang cukup lama atau mungkin saat berhadapan dengan orang-orang media yang lamban merespon. Semoga sedikit pengalaman di atas bermanfaat….

Senin, 13 Februari 2017

MENGAPA MAHASISWA LAMA MENYELESAIKAN TUGAS AKHIRNYA???

6 MASALAH MAHASISWA LAMA MENYELESAIKAN TUGAS AKHIR

6 MASALAH MAHASISWA LAMA MENYELESAIKAN TUGAS AKHIR

Beberapa pendapat dari mahasiswa tentang kuliah S1 Teknik Informatika / Komputer adalah SAKRAL sehingga banyak dari mereka yang menganggap itu adalah sebuah hal yang perlu untuk diperjuangkan.
apalagi waktu penyusunan laporan TA/Skripsi banyak mahasiswa yang mengeluhkannya, ya, seperti ribet muter-muter ketemu birokrasi kampus dan dosen pembimbing.

Beberapa Alasan Mahasiswa Lama menyelesaikan Tugas Akhir / Skripsi.

  1. Masalah idealisme dalam penentuan judul skripsi atau penelitian.

    banyak mahasiswa yang awal nya ambil skripsi pada semester 6 atau 7 idealis terhadap objek penelitian yang diambil, ya itu dikarenakan masih fress dan merasa bisa tanpa berfikir panjang kedepan bagaimana sulit nya mengerjakan skripsi apalagi yang berhubungan dengan pembuatan aplikasi. kebanyakan dari mereka berfikir "wah skripsi cuma sekali jadi bikin yang WOW",
    itu gak apa kalau daya kemampuan / skill nya mumpuni . tapi kalau cuma pas pasan,(upss.. maaf ya bukanya menyinggung kemampuan) tapi realistis.

  2. Kebiasaan Menunda Pekerjaan 
    Kebiasaan Menunda Pekerjaan, seperti mengundur-undur waktu bimbingan ("ah,, ntar dulu lah to masih semester 7 emoticon-Smilie ") , sifat menundah pekerjaan walaupun itu hal yang kecil tapi dapat berpengaruh negatif yang sangat besar, dalam ilmu Psikologi suka menundah pekerjaan disebut PROKRASTINASI yaitu sifat yang kebiasaan menunda pekerjaan. terdapat penelitian tentang Kebiasaan Menunda Pekerjaan 
    oleh Widi Fajar Widyatmoko, S.Psi., GradCert., M.HRM., yang menyatakan bahwa 75% responden memiliki kebiasaan menunda mengerjakan tugas kuliah. Pada umumnya mereka juga sering menghentikan sesaat pengerjaan tugas untuk berkomunikasi melalui sosial media twitter, facebook dan sejenisnya. Bahkan tak jarang yang kemudian terlena keasyikan bermain di sosial media dan menunda tugas kuliah lebih lama. dan masih banyak lagi contoh kebiasaan menunda pekerjaan yang menyebabkan tugas akhir gak selesai. emoticon-Smilie

  3. Masalah Birokrasi Objek Penelitian 
    beberapa pendapat mengatakan bahwa mahasiswa kesulitan mendapatkan surat / syarat untuk melengkapi persyaratan pengerjaan awal skripsi/tugas akhir, dikarenakan gak dapat surat penelitian.

  4. Permasalahan Pembuatan Aplikasi / Sistem.

    ini adalah masalah klasik mahasiswa jurusan teknik apalagi teknik informatika, kebanyakan mahasiswa yang kurang memiliki skill atau merasa salah jurusan. masalah ini adalah masalah yang terberat yang dialamai oleh mahasiswa , bagi mahasiswa yang masih kesulitan memahami struktur bahasa pemrograman, database dan lain-lain ini adalah momok bagi mereka ketika mengerjakan skripsi/TA. diantara merekan ada yang masih tetap belajar untuk memahami bagaimana apilikasi ini murni buatan sendiri , tapi banyak diantra mereka yang tetap bersaha tapi menyerah karena codingan aplikasi error terus hingga stress. temen-temen mahasiswa awalnya idealis menentukan judul yang wow padahal kemampuan nya belum mencapai target kemampuan programming, hehehe. jika uda seperti itu jadi malas mengerjakan aplikasi skripsi nya dan lanjut bermain di sosial media atau noton bola heheh. okey selanjutnya jika mereka merasa sudah terlalu lama gak lulus kebanyakan mahasiswa mencari solusi tercepat dengan hasil yang memuaskan yaitu dengan cara mencari jasa kosultasi skripsi dan bimbingan pembuatan apliaksi. ya inti nya jika mau ambil skripsi silahkan di fikirkan yang matang 2, dan ukur kemapuan jangan sampai mengajukan penelitian yang menjerumuskan diri sendiri, tidak perlu idealis tapi realistis. emoticon-Smilie
  5. Masalah Ketakutan Menghadapi Sidang / Pendadaran.

    banyak temen-temen mreas takut menghadapi sidang padahal bab 3 / perancangan sistem saja belum di acc (upss maaf ya).
    jadi mahasiswa menganggap sidang itu sebuah tragedi pembantaian yang akan dialami setiap mahasiswa.hemm itu hanya halusinasi saja.
    memang semua itu menakutkan awal nya namun jika ketakutan itu diteruskan itu lah hal yang paling menjatuh kan mental temen-temen.
    jadi gini, sidang itu hanya sebuah ritual tanggung jawab dari apa yang temen-temen kerjakan dalam penelitian. jika temen-temen murni mengerjakan sendiri ggak perlu takut akan hal itu, nah, bagi yang merasa belum mampu ngoding jangan khawatir, rsa takut di tanya entar kodingan ini gmana? kalau ditanya didatabase gimana atau gimana dengan alur sistem nya. jangan takut dengan semua itu. solusinya gan cukupsiapkan mental cari tiga temen atau 5 temen untuk bantu SIMULASI pendadaran, kemudihan jangan sampai blang , kalau uda diruang sidang fikiran-fikrian yang menggagu itu silahkan dibuang.

  6. Masalah Terhentinya TA/SKRIPSI dikarenakan Pekerjaan .

    masalah ini terlalu klasik untuk dijabarkan sebenarnya masalah ini adalah masalah penjadwalan dan komitmen untuk mengerjakan SKRIPSI/TA. jadi solusinya bagaimana mengatur waktu dengan penjadwalan yang baik dan komitmen bukan hanya bikin list di papantulis sceduling ampe penuh jadwal taget tapi gak pernah di actionkan setiap target. emoticon-Smilie

Senin, 23 Januari 2017

Selamat Ulang Tahun Putri Cantikku, Botik Salsabila Putri

Selamat Ulang Tahun Putri Cantikku, Botik Salsabila Putri
Putri cantikku, mbak Salsa, waktu bagai panah melesat jauh,
saat itu menjelang RAKER di kantor dan pasca Family Ghatering hari minggunya di Taman Safari Bogor (yang kemudian bapak dan
ibu tidak ikut…)
Senin tanggal dua puluh tiga menjelang siang hari  kira-kira jam 10 pagi
tangismu menggetarkan kalbu
kumandang adzanku menyentakkan bayi mungil seberat 2,65 Kg
sehingga yang tadinya memejamkan mata
lalu melek melihatku penuh keheranan
takjub, takjub, takjub, itu yang kurasakan.

Putri cantikku, mbak Salsa, permata hatiku
Di usiamu saat itu, sabar kau hadapi
5 tahun pertama di usiamu, 6 kali kau diopname di RS
RS Telogorejo Semarang 2 kali
RS PMI Bogor 2 kali
RS Azra Bogor 2 kali
Bakteri Colli penyebabnya
Dan kau minum obat berwarna merah
Selama 1 tahun penuh
Syukurlah badai itu segera berlalu Putri cantikku,
lentera hati masa lalu tak akan kembali
kau sembuh jadi wanita yang sehat, kuat dan mempesona

Saat kau disunting oleh mas Boman setahun yang lalu
Adalah saat yang kuidam-idamkan tiba
Kini kau lungkrah, lemah, mengandung cucuku pertama yang kudamba
Terpujilah langkahmu yang sabar
Simpan dihati Bahagiamu, Energimu, melalui doa-doa yang rutin
Masif, terus menerus, sampai tibalah waktunya yang kita impikan tiba.

Saat kau temukan belahan jiwa (mas Boman Dimas Perdana) tiada hentilah kau berdoa, berdzikir dan bersyukur ketika Allah titipkan karunia terindah dalam rahimmu.
Putri cantikku, cahaya mataku Penuh kasih hati dan jiwamu
Bijaksanalah langkah hidupmu
Syukurku memilikimu doa cinta mengiringimu
Di hari ulang tahunmu Ya Allah, anugerahkanlah kesehatan jiwa
dan raga bagi putriku, suaminya dan bayi yang dikandungnya.
Panjangkan usianya, bahagiakan lahir dan batinnya.
Kuatkan imannya, baguskan akhlaknya, limpahkan rezeki halal
dan jadikan ia wanita solehah. Amin.
Selamat ulang tahun putriku, Botik Salsabila Putri,

Hari ini, Tepat dan genap 22 tahun usiamu.

Senin, 09 Mei 2016

MENGENAL SIAPA ITU GENERASI Y ?

Mengenal Siapa Itu Generasi Y?

GenY2Siapa itu Generasi Y
Generasi Y, yang biasanya juga disebut sebagai generasi millenium, merupakan generasi yang muncul setelah Generasi X. Ungkapan Generasi Y itu mulai dipakai pada editorial koran besar di Amerika Serikat bulan Agustus tahun 1993.
Pada saat itu editor koran tersebut sedang membahas para remaja yang pada saat itu baru berumur 12–13 tahun, namun memiliki perilaku yang berbeda dengan Generasi X. Kemudian perusahaan-perusahaan pada saat itu mulai mengelompokan anak-anak yang lahir setelah tahun 1980-an sebagai anak-anak Generasi Y.
Hingga saat ini, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang Generasi Y, tidak pernah ada suatu kesepakatan kapan generasi ini dimulai. Sebahagian literatur menetapkan bahwa mereka adalah generasi yang lahir di awal tahun 1980-an, namun banyak juga literatur yang menetapkan bahwa generasi ini lahir di awal, di tengah bahkan di akhir 1990-an.

Di berbagai belahan bumi pun, belum ada kesepakatan tentang Generasi Y ini. Di Australia, para ahli belum menyepakati kapan persisnya Generasi Y ini muncul dan kapan pula tepatnya generasi ini berakhir atau “cutoff”. Pemerintah Australia sendiri melalui Australian Bureau of Statistics, menetapkan 1982–2000 sebagai masa Generasi Y.
Lain lagi dengan Canada, hampir semua ahli sepakat kalau Generasi Y lahir tahun 1982, dan periode akhir dari Generasi Y ini pertengahan tahun 1990-an atau 2000. Walau pun demikian di antara semua perbedaan, hampir semua literatur sepakat bahwa sebahagaian besar Generasi Y, lahir diantara tahun 1980-an hingga 1990-an.
Semua literatur juga sepakat bahwa sebahagian besar orang tua Generasi Y adalah generasi baby boomers, yang mempunyai kecenderungan untuk memiliki keluarga kecil, sehingga biasanya mereka hanya mempunyai kakak atau adik, tidak lebih dari 3 orang. Walaupun mereka tidak suka, Generasi Y dianggap sebagai suksesor dari Generasi X.
Mengapa Mereka Berbeda?
Apabila kita memperhatikan perilaku atau karakteristik Generasi Y di setiap daerah Indonesia, maka kita akan melihat karakteristik yang berbeda-beda, tergantung di mana ia dibesarkan, strata ekonomi dan sosial keluarganya. Namun secara keseluruhan, kita dapat melihat bahwa Generasi Y itu sangat terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Kita juga bisa melihat di setiap provinsi, bahwa mereka lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonominya sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.
Dari pengalaman pribadi sebagai senior consultant di PPM Manajemen, saya melihat bahwa Generasi Y itu terlihat lebih concern terhadap ‘wealth’ daripada generasi-generasi sebelumnya terutama generasi saya, Generasi Baby Boomers.
Banyak di antara mereka yang sudah membuat rencana apa saja yang mereka inginkan pada saat mereka baru berumur 20-an. Namun definisi mereka tentang ‘wealth’ bukan mengacu kepada kekayaan material saja. Buat mereka hubungan keluarga dan pertemanan juga dianggap sebagai bagian dari ‘wealth’ yang diinginkan.
Saya sering bertemu dengan Generasi Y, yang pindah perusahaan karena perusahaan menuntut mereka bekerja lebih dari 12 jam, sehingga mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk membangun kehidupan keluarga atau sosial lainnya, seperti apa yang mereka inginkan. Bahkan, beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke perusahaan dengan imbal jasa yang lebih kecil, karena mereka ingin mempunyai waktu yang lebih banyak buat keluarga.
Namun untuk memliliki pandangan secara akurat tentang Generasi Y ini, ada baiknya kita melihat pendapat para ahli yang kompeten. Secara internasional ada berbagai pendapat yang paling populer mengenal Generasi Y.
Pendapat pertama, mengenai generasi Y yang perlu diperhatikan adalah pendapat penulis William Strauss dan Neil Howe yang mencoba mendefinisikan generasi-generasi yang ada di Amerika dalam buku mereka Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069 (1991).
Teori mereka tentang generasi ini banyak diambil oleh berbagai penulis jurnal dan buku yang membahas masalah-masalah antar generasi. Howe and Strauss selalu memakai terminologi Generasi Millenium bagi Generasi Y, karena mereka yakin bahwa anggota Generasi Y sangat tidak suka apabila mereka diasosiasikan dengan Generasi X.
William Strauss dan Neil Howe juga menganggap Generasi Y merupakan generasi yang istimewa. Dalam buku mereka yang berjudul The Fourth Turning, yang ditulis pada tahun 1997, mereka banyak menuliskan keyakinan mereka ini. Keduanya, berpendapat bahwa sejarah modern itu akan selalu berulang sendiri setiap 4 siklus sosial, yang setiap siklus kurang lebih memakan waktu 80 sampai 100 tahun.
Dalam buku tersebut penulis juga meyakini bahwa 4 siklus sosial itu selalu terjadi dengan urutan yang sama. Siklus pertama (High), terjadi pada saat manusia melakukan ekspansi untuk menggantikan generasi yang sebelumnya.
Siklus kedua, dinamakan sebagai siklus kebangkitan (Awakening). Orang-orang pada masa ini lebih spiritual dari siklus sebelumnya, tapi mereka yang hidup di masa ini mempunyai kecenderungan untuk memberontak kepada segala sesuatu yang yang sudah dibuat mapan oleh generasi pertama.
Pada siklus ketiga yang diberi nama sebagai siklus Unraveling, elemen individu dan pengelompokan mempengaruhi masyarakat sehingga timbul berbagai permasalahan yang kemudian memicu kebangkitan generasi keempat.
Pada era masyarakat mengalami berbagai kesulitan sehingga timbul kebutuhan untuk meredefinisi lagi struktur, tujuan dan sasaran yang sudah ditetapkan dalam masyarakat.
Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain sehingga mereka diberi penamaan yang berbeda. seperti: Prophet, Nomad, Hero, and Artist. Menurut mereka Generasi Y merupakan generasi yang dikategorikan sebagai Hero, dengan karakteristik sangat percaya kepada institusi dan kewenangan, terlihat agak konvensional akan tetapi sangat berpengaruh. Kebanyakan Generasi Y ini dibesarkan pada siklus Unraveling dengan proteksi yang lebih dari generasi sebelumnya, Generasi X.
Ciri-ciri Generasi Y pada setiap tahap kehidupannya akan sangat berbeda. Pada saat muda, Generasi Y ini sangat tergantung pada kerja sama kelompok. Pada saat mereka mulai dewasa mereka akan berubah menjadi orang-orang yang akan lebih bersemangat apabila bekerja secara berkelompok terutama di saat-saat krisis.
Pada saat paruh baya, mereka akan semakin energetik, berani mengambil keputusan dan kebanyakan mereka mampu menjadi pemimpin yang kuat. Pada saat mereka tua, mereka akan menjadi sebagai sekelompok orang tua yang mampu memberikan kotribusi dan kritikan kepada masyarakat.
Pada tahun 2000, berdasarkan suatu penelitian demografis yang sangat luas William Strauss dan Neil Howe menulis buku yang didekasikan kepada Generasi Y dengan diberi judul Millennials Rising: The Next Great Generation.
Di dalam buku ini mereka memakai 1982 dan 2001 sebagai masa di mana Generasi Y mulai dan berakhir. Mereka sangat percaya bahwa semua orang yang lulus SMA sampai tahun 2000 nanti akan sangat berbeda dengan mereka yang lulus SMA sebelum dan sesudah masa itu, karena orang-orang pada masa itu menerima banyak perhatian dari media dan perkembangan politik yang mereka terima. Bahkan William Strauss dan Neil Howe berpendapat bahwa generasi ini akan menjadi generasi yang peduli akan masalah-masalah kemasyarakatan.
Jean Twenge, pengarang buku Generation Me (2007), mempunyai pendapat yang berbeda tentang Generasi Y. Menurutnya, Generasi Y dan bersama-sama Generasi X termasuk generasi yang diberi nama Generation Me.
Ia berpendapat seperti ini, karena dari riset perilaku yang dilakukannya ia melihat bahwa generasi ini meningkat kecenderungan narcissismnya apabila dibandingkan dengan riset yang dilakukan terhadap generasi Baby Boomers, pada saat mereka remaja hingga mereka berumur duapuluhan.
Dengan dasar penelitian ini, ia mempertanyakan pendapat Strauss & Howe tentang generasi ini. University of Michigan’s secara terus menerus sejak tahun 1975 melakukan penelitian terhadap para remaja. Hasil penelitian mereka memperlihatkan:
• Pelajar yang menyatakan kekayaan itu penting semakin meningkat setiap generasi dari 45% pada Generasi Baby Boomers (disurvey pada tahun 1966 dan 1978), menjadi 70% pada Generasi X dan 75% pada Generasi Y atau Millennials.
• Sebaliknya, pelajar yang menyatakan bahwa selalu tahu tentang keadaan politik semakin menurun setiap generasi dari 50% pada Generasi Baby Boomers (disurvey pada tahun 1966 dan 1978), menjadi 39% pada Generasi X dan 35% pada Generasi Y atau Millennials.
• 73% Baby Boomers ingin mengembangkan filosofi yang bermakna, sementara hanya 45% Generasi Y yang mau melakukan hal tersebut.
• 33% Baby Boomers mau terlibat dengan program membersihkan lingkungan dan hanya 33% Generasi Y yang mau melakukan hal tersebut.
Praktek Pengelolaan SDM Bagi Generasi Y
Apabila kita perhatikan data demografi karyawan di perusahaan, kita dapat melihat kalau Generasi Baby Boomers adalah generasi terbesar yang anggotanya sedang aktif bekerja. Penelitian dan observasi memperlihatkan bahwa Generasi Baby Boomers mengidentifikasi atau menggambarkan kekuatan mereka adalah pemikiran-pemikiran tentang organisasi, rasa optimisme dan kemauan untuk bekerja dengan waktu yang panjang (work long hours).
Generasi ini dibesarkan di dalam suatu organisasi dengan struktur organisasi yang hierarkhis daripada struktur manajemen yang datar di mana kerja sama yang timbul di dalam organisasi didasarkan pada tuntutan pekerjaan (teamwork-based job roles).
Sementara Generasi Y, yang mempunyai karateristik yang berbeda dengan Generasi Baby Boomers, juga mempunyai harapan yang sangat berbeda kepada perusahaan yang memperkerjakan mereka. Secara merata Generasi Y mempunyai pendidikan yang lebih baik dari para orang tua, mereka cukup terbiasa dengan teknologi bahkan sebahagian mereka sangat ahli dengan teknologi. Mereka ini mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, mampu mengerjakan beberapa tugas dan selalu mempunyai energi yang berlebihan.
Namun di sisi lain Generasi Y ini sangat membutuhkan interaksi sosial, hasil pekerjaan yang dapat dilihat seketika dan keinginan untuk mendapatkan pengembangan yang cepat. Kebutuhan-kebutuhan ini yang sering dianggap sebagai kelemahan dari Generasi Y oleh kolega mereka yang lebih tua terutama mereka yang berasal dari Generasi Baby Boomers.
Berdasarkan pengalaman PPM Manajemen di dalam merekrut Generasi Y, terlihat bahwa Generasi Y itu lebih banyak harapannya kepada perusahaan, sehingga mereka akan pindah pekerjaan lebih banyak daripada generasi-generasi sebelumnya. Untuk menghadapi tantangan ini beberapa perusahaan multinasional sudah melakukan riset sosial dan perilaku yang lebih mendalam untuk Generasi Y.
Institute of Leadership & Management, misalnya, berkolaborasi dengan Ashridge Business School melakukan riset tentang kesenjangan antara Generasi Y yang direkrut dengan para manajernya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Y sangat menginginkan perusahaan mempunyai sistem yang dapat mengembangkan diri mereka, imbal jasa yang baik dan proses coaching yang jelas. Apabila perusahaan ingin menggunakan Generasy Y sebagai sumber kompetitif mereka maka perusahaan harus menyempurnakan sistem sistem dan proses Human Capital-nya.
Usaha-usaha yang perlu dilakukan oleh perusahaan di dalam proses akuisisi dan mengembangkan Generasi Y, di antaranya adalah:
1. Meredefinisi karakteristik atau ciri ciri karyawan yang diinginkan karena Generasi Y memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda. Misalnya, beberapa perusahaan mempunyai kebijakan untuk tidak menerima karyawan yang memiliki tatto, karena tatto dianggap suatu ciri pemberontakan pada suatu institusi.
Sementara populasi Generasi Y yang memiliki tatto ini cukup besar bahkan beberapa diantara mereka memiliki tatto yang lebih dari 1. Bagi Generasi Y sendiri, tatto hanya merupakan suatu bentuk komunikasi tentang indentitas diri mereka, sehingga banyak di antara mereka walaupun memiliki tatto akan tetapi berkomitmen pada profesi yang dipilih. Atau pandangan bahwa tinggal bersama orang tua merupakan pertanda ketidakdewasaan.
Sementara bagi Generasy Y, tinggal bersama orang tua merupakan bentuk relasi sosial yang ingin dipertahankan karena mereka ingin memberi kasih sayang lebih banyak kepada oarang tuanya. Sehingga banyak di antara mereka yang tinggal bersama orang tuanya, namun secara ekonomi mereka yang menanggung kehidupan orang tuanya.
2. Memberikan informasi yang jelas tentang organisasi sejak awal proses rekrutmen sehingga Generasi Y mendapatkan kejelasan kualifikasi apa yang dituntut organisasi dari mereka. Serta hal-hal yang dapat diberikan perusahaan kepada mereka terutama sistem pengembangan karir dan kompetensi, diri mereka, imbal jasa yang baik dan proses coaching yang jelas serta iklim kerja di organisasi.
3. Mempersiapkan lingkungan unit kerja yang akan menerima penempatan Generasi Y untuk pertama kali. Sehingga para atasan Generasi Y di tempat baru memahami perbedaan karakter Generasi Y. Untuk memastikan Generasi Y yang baru masuk dapat beradaptasi dengang baik, Goldman Sachs membuat workshop bagi para atasan Generasi Y, dengan tujuan mereka bisa memahami dan memenuhi kebutuhan Generasi Y akan tanggung jawab yang jelas, umpan balik terhadap kinerja mereka dan memberi kesempatan untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan.
4. Generasi Y juga akan membawa perubahan dalam cara penyelesaian pekerjaan karena mereka adalah orang-orang yang sangat suka bekerja dalam kelompok dan memakai teknologi lebih banyak dari generasi sebelumnya.
Apabila di generasi-generasi sebelumnya pembagian pekerjaan itu sifatnya individu, maka pada generasi ini sebaiknya pembagian pekerjaan diberikan per kelompok sehingga mereka mempunyai kebebasan untuk menetapkan tugas masing-masing anggotanya berdasarkan kekuatan mereka.
Perusahaan juga harus bisa memberikan kebebasan kepada mereka untuk menggunakan teknologi dalam bekerja. Apabila mereka menganggap tatap muka bukan merupakan suatu hal yang penting, maka berikan mereka kesempatan untuk berkomunikasi melalui teknologi.
5. Generasi Y selalu ingin mengetahui pandangan manajemen atau umpan-balik dari atasan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Sayangnya, manajemen kinerja yang berlaku di perusahaan saat ini, biasanya hanya memberi kesempatan 2 kali dalam 1 tahun untuk melakukannya.
Kesempatan ini jelas terlalu sedikit dan terlalu lama untuk Generasi Y. Mereka selalu ingin tahu apabila pekerjaan mereka berhasil dengan baik dan mereka menginginkan adanya umpan-balik saat itu juga. Dari suatu penelitian yang dilakukan terhadap pembaca Majalah Manajemen, diketahui bahwa para karyawan Generasi Y mengharapkan para atasan mereka mampu memberikan tuntutan kerja yang jelas, menumbuhkan budaya kerja yang berorientasi pada kerja sama kelompok, memberikan umpan balik secepat mungkin, memberikan kesempatan penghargaan apabila mereka mampu melakukan suatu tindakan yang beresiko tinggi atau berhasil melakukan suatu inovasi.
Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan untuk Mempertahankan Generasi Y
Membuat suatu strategi untuk mempertahankan karyawan yang berkinerja tinggi dan bertalenta merupakan suatu sasaran penting bagi manajemen puncak di dalam suatu organisasi. Beberapa organisasi telah berhasil membuat suatu strategi untuk mempertahankan karyawan terbaik mereka yang berasal dari Generasi Baby Boomers. Namun untuk mempertahankan karyawan yang datang dari Generasi Y, organisasi tersebut memerlukan suatu pendekatan dan strategi yang sangat berbeda.
Dari paparan di atas, kita dapat melihat perbedaan karakteristik di antara Generasi Baby Boomers dan Generasi Y. Namun isu yang perlu didiskusikan berikutnya adalah seberapa jauh perbedaan antara Generasi Baby Boomers dan Generasi Y. Keterikatan seorang karyawan kepada organisasi sangat dipengaruhi oleh dimensi-dimensi kehidupan yang mempengaruhi kepuasan bekerja karyawan tersebut yang bisa membawa pikiran dan fisik mereka ke tempat kerja.
Guna mengetahui dimensi apa yang mendorong para karyawannya untuk terikat kepada organisasi, suatu organisasi dituntut untuk mencari tahu dimensi-dimensi yang membuat seorang karyawan terikat atau ingin melepaskan diri dari organisasinya (engagement drivers and threats). Untuk menyamakan pemahaman kita semua mengenai engagement drivers and threats, sebaiknya diperjelas dulu pengertiannya.
Engagement drivers adalah dimensi-dimensi yang meningkatkan persepsi seseorang untuk terikat terhadap organisasinya, sementara engagement threats adalah dimensi-dimensi yang menurunkan rasa keterikatan seseorang terhadap organisasinya.
Beberapa engagement drivers and threats yang sering dijadikan dimensi pengukuran dalam penelitian tentang engangement, seperti kesempatan mengembangkan karir, corporate social responsibility, kesejahteraan dan kesehatan karyawan, reputasi organisasi, kesempatan untuk belajar dan dikembangkan, manajemen kinerja, gaya kepemimpinan manajemen madya dan work-life balance.
Dari beberapa riset yang dilakukan oleh berbagai pihak, saya berpendapat bahwa Manajemen Kinerja (managing performance) dan Kesempatan untuk mengembangkan karir (career opportunities) merupakan engagement drivers yang paling penting sementara engagement threats yang sangat besar pengaruhnya adalah nama baik perusahaan (Employer Reputation) dan manajemen kinerja (managing performance).
Engagement di dalam suatu perusahaan biasanya diukur berdasarkan opini seluruh karyawannya dari seluruh unit yang ada di dalam organisasi tanpa memperhitungkan perbedaan generasi. Hal seperti itu, bukanlah praktek yang baik karena organisasi menjadi tidak sensitif terhadap engagement drivers and threats bagi setiap generasi dan bahkan kelompok kerja.
Sebaiknya suatu organisasi juga tidak mengukur engagement berdasarkan dimensi-dimensi yang berhasil membuat organisasi lain mengikat karyawannya. Manajer human capital dan para specialist di dalam suatu organisasi mempunyai kewajiban untuk mencari dimensi engagement di dalam organisasi, sebab dimensi engagement suatu organisasi tidak akan sama dengan organisasi yang menjadi pesaingnya maupun organisasi yang menjadi pemimpin di dalam industri tersebut.
Misalnya, apa yang menjadi engangement drivers dan threats bagi taksi Blue Bird sebagai perusahaan yang memimpin industri taxi tidak akan sama dengan drivers dan threats bagi perusahaan-perusahaan taksi yang menjadi pesaingnya.
Apabila suatu organisasi sudah berhasil mengidentifikasi engagement drivers dan threats yang menjadi ciri khas bagi organisasinya, maka manajemen madya di organisasi tersebut harus segera memutuskan bagaimana menyempurnakan sistem dan proses human capital yang sudah ada.
Misalnya, suatu perusahaan berhasil mengidentifikasi bahwa salah satu engagement drivers-nya adalah perlakukan atasan terhadap bawahannya, maka perusahaan tidak mungkin membuat peraturan yang dapat memuaskan setiap orang dari berbagai generasi.
Hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah meredisain tugas setiap atasan dan kemudian memberdayakan mereka agar mampu lebih mengenali sumber motivasi bawahannya dan meningkatkan engagement drivers mereka.
Apa yang Perlu Diperhatikan tentang Generasi Y
Di akhir diskusi ini, saya ingin menyampaikan bahwa perbedaan karakteristik di antara Generasi Y dengan generasi-generasi sebelumnya cukup besar. Generasi Y menuntut beberapa hal dari organisasi yang akan mereka masuki atau organisasi tempat mereka bekerja.
Generasi Y sangat menginginkan perusahaan mempunyai sistem yang dapat mengembangkan diri mereka, imbal jasa yang baik dan proses coaching yang jelas. Namun untuk kesuksesan dalam mengelola Generasi Y, sebaiknya perusahaan mengenali karakteristik Generasi Y yang mereka miliki sehingga manajemen bisa membuat kebijakan human capital yang lebih sesuai dengan mereka.
Walaupun beberapa organisasi telah berhasil membuat suatu strategi untuk mempertahankan karyawan mereka yang berkinerja tingga dan bertalenta. Namun untuk mempertahankan karyawan yang datang dari generasi Y, organisasi tersebut memerlukan suatu pendekatan dan strategi yang sangat berbeda. Organisasi perlu mengetahui engagement driver mana yang lebih mengena bagi organisasi Y sehingga mudah bagi organisasi untuk melakukan penyempurnaan terhadap sistem dan prosedur human capital-nya.
#Tulisan ini dimuat di HC Magazine #1 November – Desember 2012.
Octa Melia JalalOcta Melia Jalal. Head of PPM Center for Human Capital Development.
mia@ppm-manajemen.ac.id

Rabu, 03 Juni 2015

Rahasia Sukses Program Doktoral

Rahasia Sukses Program Doktoral

Saya tidak begitu mengerti banyak tentang bagaimana menjalankan studi S3 dengan sukses. Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Washington University in St. Louis (Washu), jujur saja saya sangat excited tetapi juga ketakutan setengah mati. Saya baru saja lulus program S1 dari universitas di Amerika yang program ekonominya tidak begitu bagus. Salah satu Professor S1 saya juga mengatakan bahwa saya seharusnya mengambil master dulu agar tidak terlalu terkejut dengan program S3 ekonomi. Ia juga menyarankan bahwa apabila saya bisa masuk program master yang lebih bagus, program S3-nya juga mungkin bisa diterima di kampus yang rankingnya lebih bagus lagi. Waktu itu saya tidak ada biaya untuk melanjutkan program S2.
Program S2 ekonomi di Amerika hanyalah program persiapan dan adaptasi. Seseorang yang baru lulus S1 dari jurusan apa saja asal mempunyai background matematika yang kuat bisa mendaftar ke program S3 ekonomi langsung. Nanti selesai lulus program S3-nya, universitas akan memberikan S2 secara “cuma-cuma” juga. Terlebih lagi, banyak program S3 di Amerika yang gratis dibayarkan oleh universitasnya. Bahkan mereka akan memberikan uang saku untuk biaya hidup juga. Dengan pertimbangan ini, saya pun mencoba mendaftar sekolah-sekolah untuk program S3 ekonomi.
Tahun pertama dan kedua saya di sini penuh dengan stress, belajar sampai tengah malam di kampus, merasa tersesat selama pelajaran, dan berkali-kali merasa bodoh. Benar kata professor S1 saya bahwa saya akan kaget begitu saya masuk ke sini. Di akhir tahun pertama akan ada dua ujian kompetensi, bila tidak lulus kami akan dikeluarkan dari program kami. Washu cukup baik. Universitas memberikan kami uang saku yang cukup pada tahun pertama tanpa ada beban apa-apa. Di sekolah lain kadang siswa harus menjadi asisten dosen untuk mendapatkan assisten dosen. Professor saya juga bercerita di sekolahnya dulu di Ohio, bila nilai tidak bagus, uang sakunya akan dipotong. Di Washu tugas mahasiswa tahun pertama hanya satu: belajar dan kami tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidup. Kami juga diberikan kesempatan kedua untuk mengikuti ujian kompetensi apabila yang pertama gagal (di kebanyakan sekolah lain, kesempatan kedua ini juga ada).
Saya bersyukur berhasil lulus ujian kompetesi (meskipun harus mencobanya dua kali), dan saya terus mencoba untuk survive di program ini. Jujur saja saya masih tidak tahu rahasia untuk bisa sukses menjalani program S3 (dan saya juga sudah mencoba meng-Google berbagai macam tips yang ada di internet). Untuk tips-tips general, google bisa memberikan berbagai articles dalam hitungan detik. Untuk tulisan ini, saya ingin berbagi saran-saran dari professor-professor saya yang sini. Satu hal yang bisa saya katakan dengan percaya diri sebagai salah satu kunci kesuksesan program PhD adalah punya professor yang peduli padamu. Belajar itu bukan hanya belajar dan mengobservasi, belajar itu adalah proses interaksi dan membagi pikiran dengan orang-orang di lingkungan studimu. Studi saya di sini tidak akan bisa sebaik ini tanpa dukungan dari para professor. Akan kuperkenalkan kepada kalian beberapa dari mereka (menggunakan nama inisial untuk menjaga privasi mereka).
Setelah ujian tengah semester tahun pertama, angkatan saya cukup depresi dengan nilai-nilai kami. Teman-teman angkatan saya datang dari berbagai latar belakang pendidikan, umur, dan pengalaman. Beberapa dari kami baru lulus dari S1 dan sangat kewalahan, kecuali satu anak Cina yang luar biasa pintarnya. Yang lain mempunyai S2 dan beberapa mempunyai pengalam kerja. Satu mempunyai latar belakang bekerja untuk bank pemerintah Korea, murid paling pintar di kelas kami. Karena latar belakang yang berwarna-warni, nilai-nilai kami juga bertebaran di mana-mana. Ada yang konsisten selalu mendapatkan nilai 90-100 dan ada juga yang konsisten mendapat nilai dibawah 30. Nilai saya sendiri melompat-lompat ke mana-mana. Jadi tentu saja kami cukup depresi. Dengan nilai seperti ini bagaimana kami bisa lulus ujian kompetensi?
Melihat mood kami yang jelek, Prof. N menanyakan apakah kami sedih karena nilai-nilai baru saja keluar. Dia tertawa melihat awan-awan gelap memenuhi ruangan. “Ini program S3, kalian harus membiasakan mendapatkan nilai jelek,” katanya. Ia juga mengatakan nilai itu tidak penting, yang penting adalah lulus ujian kompetensi. Setelah ujian kompetensi, kami bisa melakukan penelitian pada topik apapun yang kami mau. Untuk menyemangati kami, dia menceritakan masa S3-nya di Harvard. Gurunya waktu itu adalah Kakutani, seorang teoris matematika yang terkenal juga di kalangan ekonomi. Dia mengatakan bahwa hasil ujian biasanya seperti ini: Satu anak mendapatkan nilai 90an. Satu anak mendapatkan nilai 20an. Sisanya 0. “Dan saya salah satu yang mendapatkan nol,” katanya. Prof. N lalu mengatakan, mereka pernah melihat data dan mencoba menganalisis apakah ada korelasi antara nilai-nilai ujian tahun pertama dengan bagusnya pekerjaan yang murid-murid dapat setelah lulus program S3. Dia mengatakan bahwa tidak ada korelasi sama sekali. “Jadi janganlah berkecil hati, teruslah belajar.” Prof. N selalu mengemail kami setelah nilai keluar untuk meyakinkan kami untuk selalu berusaha. Ia selalu optimistis dan tidak pernah angkuh kepada kami (percayalah ada juga professor-professor yang angkuh terhadap mahasiswanya disini). Iya, tidak merasa malu bila tidak tahu atau salah di kelas (dan percayalah lagi bahwa ada professor yang ditunjukkan bahwa ia salah lalu marah-marah). Kami sangat menghormati dia.
Memasuki tahun kedua, angkatan saya bertemu Prof. A. Dia pria Italia pendek yang sangat sayang pada mahasiswanya. Saat saya berbincang di kantornya, dia mengatakan, “Kalian dari dulu sudah diprogram untuk peduli pada nilai dan mengejar nilai tertinggi. Sekarang kalian harus menghilangkan kebiasaan itu. Jangan khawatir soal nilai, kalian semua akan dapat A dari saya. Yang terpenting adalah pelajarilah topik yang kalian suka, ini penelitian kalian bukan penelitian saya. Kalian disini untuk belajar untuk berpikir dan melakukan research original kalian sendiri.”
Prof. A tidak berbohong, kami semua mendapatkan nilai A dari dia untuk kelasnya. Di kelasnya dia hanya memberikan kuliah dua minggu pertama lalu minggu-minggu berikutnya kami mempresentasikan paper dari journal yang kami pilih asalkan cocok dengan topik Money and Banking. Di tengah-tengah presentasi dia memberikan kami kritik dan pertanyaan. Kadang pernah dia tertidur, lalu kelas berikutnya dia memastikan dia membawa secangkir kopi ke kelas. Yang tidak pernah ia lakukan adalah mengatakan bahwa presentasi kami buruk. Dia bilang anggaplah sebagai latihan. Ada teman saya yang Bahasa Inggrisnya sangat belepotan sehingga presentasinya sangat susah untuk dimengerti. Professor saya tetap saja bertepuk tangan dan mengatakan teruslah latihan lagi.
Sosiaisasi dengan guru adalah kultur yang sangat penting di sekolah manapun kamu berada, tidak khusus di program S3 saja. Dan sosialisasi bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap bulan departemen saya mengadakan makan-makan di restoran antara fakultas dan siswa S3 dan setiap semester kami juga selalu ada piknik departemen. Prof A. paling suka menghadiri acara-acara ini. Pernah sekali ini mengadakan beberapa kelas tambahan di malam hari dan ia merayu kami untuk datang dengan pizza. Ia datang ke seketaris departemen untuk menanyakan di mana dia bisa mendapatkan minuman untuk kami. Lalu dia memanggil saya untuk meminta diajarkan cara memesan pizza (lucu perasaan saya waktu itu ketika diminta menjelaskan sesuatu yang sangat trivial). Saya menunjukkan cara memesan delivery online. Dia sangat girang. “Aku mempelajari hal baru hari ini!” katanya.
Tidak terhitungkan cerita-cerita tentang professor-professor saya yang menginspirasi dan selalu membantu saya dalam proses pembelajaran ini. Tentu saja banyak juga kisah-kisah dari para professor yang kurang menyenangkan. Ada kisah-kisah professor yang menakutkan. Saya harus menghela nafas ketika akan mengirim email meminta kritik ide penelitian dari professor-professor yang wajahnya seram. Ada kisah-kisah professor yang unik. Ada satu professor yang tidak membolehkan kami memanggilnya professor tetapi harus memanggilnya Paman M. Lalu dia sendiri memanggil kamu Professor. Apabila anda akan memasuki program S3 ingatlah, para professorlah yang akan menjadi mentormu untuk berkembang. Bila kau menemukan yang cocok, selamat, kau sudah berhasil setengah jalan.

Senin, 04 Mei 2015

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Awal Masuknya Islam ke Indonesia



Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  

      Masuknya Islam ke Indonesia

Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.

Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajaran agama Islam. Hal ini mempengaruhi pula perkampungan Arab yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan di Asia Tenggara.


Sementara menurut T.W Arnold dan Hamka, Islam masuk ke Indonesia sudah terjadi sejak abad ke-7. Hal ini didasarkan pada kenyataan sejarah bahwa bangsa Arab sudah aktif dalam lapangan perniagaan laut sejak berabad-abad  pertama Masehi. Mereka telah lama mengenal jalur perdagangan laut  melalui Samudera Indonesia. Pendapat ini juga didukung oleh Abdullah bin Nuh dan D. Shahab. Mereka menyatakan bahwa sejak abad ke-7 sudah terjalin hubungan dagang antara Indonesia dengan dunia Arab.

Hal tersebut bukan saja dibuktikan oleh sudah adanya perkampungan perdagangan Arab di pantai Barat Sumatera, tetapi oleh tulisan-tulisan yang dikarang oleh penulis-penulis Arab yang mengindikasikan bahwa mereka sudah sangat mengenal lautan Indonesia. Di antara penulis-penulis Arab tersebut adalah Sulaiman (850 M), Ibnu Rusta (900 M) dan Abu Zaid. Mereka menjelaskan bahwa pelaut-pelaut Arab Islam telah mengenal sekali laut Indonesia. Selain itu dijelaskan pula bahwa bangsa Arab telah mengenal pertambangan timah yang dikuasai oleh Zabaj, yang menurut Sir Thomas W. Arnold adalah Sriwijaya.[1]

Teori kedua, menyatakan bahwa Islam datang di Indonesia pada abad ke-13. Di antara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouck Hurgronje dan Bernard H. M. Vlekke didasarkan pada keterangan Marcopolo yang pernah singgah beberapa lama di Sumatera untuk menunggu angin pada tahun 1292 M. Ketika itu dia menyaksikan bahwa di Perlak -di ujung utara pulau Sumatera- penduduknya telah memeluk agama Islam. Namun dia menyatakan bahwa Perlak merupakan satu-satunya daerah Islam di Nusantara ketika itu.[2]

Adapun asal daerah Islam Indonesia, paling tidak ada tiga pendapat. Pertama, berasal dari India. Menurut Pijnapel, Islam Indonesia berasal dari India, terutama dari Gujarat dan Malabar. Pendapat tersebut didukung oleh sejarawan Barat seperti, W. F. Stutterheim, J. C. Van Leur, T. W. Arnold Vlekke, Schrieke dan Cliford Geertz. Menurut W. F. Stutterheim dalam bukunya De Islam enZijn Komst in the Archipel, Islam di Indonesia berasal dari Gujarat dengan dasar batu nisan al-Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297 M. 

Dalam hal ini beliau berpendapat bahwa relief nisan tersebut bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat. Sementara itu, Bernard H. M. Vlekke dalam bukunya Nusantara: A History of Indonesia, mengatakan bahwa nisan al-Malik al-Saleh selain mempunyai kesamaan dengan yang ada di Cambay, juga diimpor dari sana pula, karena Cambay merupakan pusat perdagangan Islam abad ke-13. Pendapat tersebut diperkuat dengan kenyataan sejarah yang lain yaitu persamaan ajaran mistik Islam di Indonesia dengan yang berkembang di India.[3]

Kedua, berasal dari Benggali (sekarang Bangladesh). Pendapat ini dikemukakan oleh S. Fatimi, seorang guru besar asal Pakistan. Dengan bersandar kepada pendapat Marcopolo dan Tome Pires, S. Fatimi menyimpulkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai pasti berasal dari Benggali. Hal ini dikuatkan dengan terjalinnya hubungan niaga Benggali dan Samudera Pasai sejak zaman purba. Menurut Tome Pires, di samudera Pasai sendiri banyak orang-orang Benggali yang bermukim di daerah tersebut. Namun pendapat ini ditentang oleh Drewes dengan menggunakan pendekatan ajaran fiqih. Menurutnya, penduduk Benggali bermadzhab Hanafi, sementara penduduk Indonesia mayoritas Syafi’i.

Ketiga, berasal dari Arab. Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Nieman, de Hollander, Syekh Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu dan mayoritas tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti Hamka dan Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka menuduh teori yang mengatakan Islam datang dari Gujarat adalah propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara itu tidak murni.[4]

Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu. Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni’, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni’ itu merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.[5]

Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Dinasti Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.

Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Mereka umumnya mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat dikenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.[6]

Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.

Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah, Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur. Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa.

Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam, sekaligus sebagai tempat pengaderan para santri. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri telah berhasil mendidik ribuan santri yang kemudian dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.[7]

Proses masuknya Islam ke Indonesia ini (saluran Islamisasi) melalui berbagai pendekatan. Sedikitnya ada enam pendekatan yang dikemukakan oleh Uka Tjandrasasmita, yaitu: pendekatan perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian dan politik.[8]

Pendekatan perdagangan ini sangat menguntungkan karena diikuti oleh kaum elit/bangsawan yang ada pada waktu itu. Perilaku pedagang muslim yang sangat simpatik akhirnya menarik para bangsawan untuk memeluk ajaran Islam. Dengan modal status sosial (kekayaan) yang lebih baik dibanding masyarakat pribumi pada umumnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi puteri-puteri bangsawan untuk menikah dengan saudagar-saudagar muslim, sehingga proses Islamisasi berjalan dengan cepat. Demikianlah yang terjadi dengan Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dengan Nyai Manila dan Sunan Gunung Djati dengan Kawunganten.

Jalur lain adalah tasawuf, yaitu proses Islamisasi dengan mengajarkan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai dan budaya bahkan ajaran agama yang ada ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dikodifikasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima. Kemudian melalui jalur kesenian dengan mengambil seni yang pada waktu itu sangat digemari rakyat dengan mengubah ke nuansa yang lebih Islami. Barangkali cara ini yang sering digunakan oleh Sunan Kalijaga seperti kesenian wayang.

Islamisasi juga dengan menggunakan pendekatan politik, yaitu dengan mengislamkan para raja terlebih dahulu. Hal ini karena pengaruh raja -secara politis- banyak menarik penduduk untuk masuk Islam. Sebagaimana yang terjadi di Jawa, Maluku, Sumatera, dan Kalimantan. Dan yang terakhir, melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan pesantren yang kemudian disusul penyebarannya oleh para santri yang telah lulus dari pesantren.[9]

      Kesimpulan

Meski Islam datang pertama kali di kawasan Jazirah Arab, di mana pada tingkat tertentu pengaruh kehidupan tradisi Arab tidak bisa dihindari. Akan tetapi, memaksakan Islam yang sepenuhnya sesuai dengan budaya lokal masyarakat Arab itu jelas bukan menunjukkan nilai universal islam yang sebenarnya. Malah terkadang pemaksaan terhadap budaya Arab justru akan menyebabkan tercerabutnya masyarakat dari akar budayanya sendiri.

Oleh sebab itu, penting untuk disebutkan bahwa Islam yang kini menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia, merupakan hasil proses panjang pengalaman inkulturasi budaya –yang tentu saja- mengilustrasikan adanya sebuah dialektika intensif antara ajaran-ajaran inti Islam dengan tradisi dan tata nilai masyarakat Indonesia. Sehingga Islam tampak sebagaimana tradisi asli yang sulit dihilangkan begitu saja.

Maka, wajah Islam yang mengalami inkulturasi dengan sebuah tradisi tertentu akan mengandaikan dua hal yang menunjukkan tentang intensitas Islam sebagai agama universal. Pertama, interpretasi terhadap ajaran Islam akan dipahami sesuai dengan konteks zaman dan tempat di mana ia berkembang. Kedua, ajaran islam akan tampak lebih dinamis dan progresif dalam merespons tantangan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Dan dengan demikian, Islam dapat menjadi inspirator dalam setiap perubahan sosial sebuah masyarakat.    

Daftar Pustaka

-          Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan. 2001.
-          Edyar, Busman (Ed.). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Asatruss. Cet. II. 2009.
-          Huda, Nur. Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2007.
-          Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Ummat Islam. Terjemahan Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1999.
-          Shihab, Alwi. Membendung Arus. Bandung: Mizan. 1998
   
-          Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. 1998.
-          Thohir, Ajid. Studi Kawasan Dunia Islam: Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik. Jakarta: Rajawali Press. 2009.
-          Vlekke, H. M. Bernard. Nusantara Sejarah Indonesia. Terjemahan Samsudin Berlian. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Cet. IV. 2008.
-          Yatim, Badri. Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Depag. 1998.



[1] Badri Yatim, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Depag, 1998), cet. 1. h. 28-29.
[2] Ibid, h. 30.
[3] Bernard H. M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia, (Jakarta:  Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), cet. Ke 4, h. 92.
[4] Edyar Busman dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009), cet. Ke 2, h. 207.
[5] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik, (Jakarta: Rajawali Prers, 2009), h. 395.
[6] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (Bandung: Mizan, 2001).
[7] Ajid, Op. Cit., h. 397-398.
[8] Nur Huda, Islam Nusantara Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia (Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2007), h. 44
[9] Edyar, Op. Cit., h. 208