Senin, 09 Maret 2015

" KEDAHSYATAN SEBUAH SENYUM "

" KEDAHSYATAN SEBUAH SENYUM "


(dikutip dr milis Student-emba) :

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian
layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling."
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada
tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya
adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada
setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran
McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin
dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan
meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk
yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap
orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula
antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui
suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih
pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum"
kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih
sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima
'kehadirannya' ditempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya
'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan
tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki
dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin
setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya
bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki
bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari
koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah
menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan
menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua
orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di
counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk
beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan
meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata
biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian
berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah
ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
"Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada
di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
menyampaikan makanan ini kepada kalian."

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua
lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat
duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya
sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku
dan anak-2ku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu
kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami
telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang
lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu
persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan
kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
"Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang
berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak
meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu,
dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung
menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah
kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang
tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya
betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini
ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas,
ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen,
dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang
dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang
kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu
berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

"Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat'
dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap
siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya
lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku
kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan
menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak
hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang
membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK
di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang,
akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih
banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!
Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka,
tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu
tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang
tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN
MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan
semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

Selasa, 03 Maret 2015

CARA HITUNG ROYALTI BUKU

Cara Hitung Royalti Buku

(Cikeas, 29 November 2013)
Bagi penulis buku, royalti adalah salah satu sumber pemasukan. Memang, bukan hanya dari royalti karena masih ada sejumlah sumber penghasilan lain untuk penulis profesional seperti jual putus, menjadi penulis pendamping (co writer), penulis bayangan (ghost writer), penulis artikel, ikut lomba dan lain sebagainya. Banyak sekali sumber pemasukan buat penulis profesional.
Namun, yang paling populer di kalangan penulis adalah royalti. Padahal, kedatangan royalti tidak setiap hari atau setiap bulan. Royalti berasal dari penerbit dengan sistem berkala, mulai dari setahun 4 kali (triwulanan), 3 kali (kwartal) atau 2 kali (semesteran). Setiap penerbit memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Meski tidak hadir setiap bulan, sebagian besar penulis masih mengandalkan royalti sebagai sumber pemasukan, sehingga karena datangnya jarang, banyak penulis yang mengalami kesulitan dalam mengatur keuangannya. (Soal ini nanti dibahas lebih lanjut pada artikel lainnya, dan dikupas tuntas dalam Program Penulis Profesional dan Writerpreneur).
Berikut ini adalah cara menghitung royalti yang dilakukan penerbit.
Besaran royalti antara paling kecil 5% sampai yang paling besar 12%, tergantung kualitas penulis dan prestasi penjualan buku. Rata-rata penerbit termasuk penerbit besar seperti Grup Gramedia menerapkan standar royalti 10%. Hitungan ini memakai asumsi rata-rata royalti yaitu 10%.
08 - Royalti Buku
BESARAN ROYALTI
Rumusnya:
Harga jual buku X jumlah cetakan X 10%
Kita anggap saja harga buku adalah Rp 50.000,-, dan buku yang dicetak sebanyak 3000 eksemplar. Standar jumlah cetakan setiap penerbit berbeda, namun biasanya antara 2500-4000. Jika yakin dengan kualitas buku dan prospeknya, bisa saja penerbit mencetak 10.000 ekesemplar.
Contoh:
Rp50.000,- X 3000 eksemplar X 10%
= Rp15.000.000,-
Royalti dibayarkan sesuai dengan kondisi penjualan buku. Mulai dari masuk ke toko buku, sampai buku habis. Pembayaran royalti sesuai dengan angka penjualan di toko buku. Namun, sejumlah penerbit menerapkan sistem uang muka royalti sebesar 20% (variasi antara 20%-25%) dari total royalti. Sisanya dibayar sesuai angka penjualan. Misal, dengan angka total Rp15.000.000, maka uang mukanya adalah Rp15.000.000 X 20% = Rp3.000.000. Uang muka dibayarkan ketika buku terbit atau surat perjanjian ditandatangani.
Oh ya jangan lupa, penulis adalah warga negara yang baik. Setiap royalti dipotong pajak sebesar 15% (bagi yang punya NPWP) dan 30% (bagi yang tidak punya NPWP). Jadi, Anda harus punya NPWP kalau mau menjadi penulis.
MENJADI PENULIS PRODUKTIF
Nah, kalau Anda mau menekuni dunia penulisan sebagai sumber penghasilan, maka Anda harus menetapkan dulu berapa banyak uang yang mau Anda peroleh setiap bulan. Sebut saja misalnya Rp5.000.000,- perbulan. Dengan angka itu, kita bisa menetapkan berapa buku yang harus ditulis selama setahun.
Rumusnya:
12 bulan X Rp 5.000.000,- : royalti per buku = jumlah buku.
Maka akan keluar angka 4 buku pertahun, dengan asumsi jumlah royalti perbuku adalah Rp 15.000.000,- Hitungan ini adalah hitungan di atas kertas. Kemungkinan meleset sangat besar, karena angka penjualan buku kita sulit diprediksi. Kadang bagus, kadang tidak. Bisa jadi semua cetakan terjual, bisa pula tidak, atau bisa juga dicetak ulang.
Silakan Anda hitung sendiri, berapa banyak Anda harus menulis dalam setahun, untuk mendapatkan pemasukan bulanan yang memadai. Jangan lupa pajak.

Senin, 02 Maret 2015

Kekagumanku Pada Kesederhanaan

Kekagumanku Pada Kesederhanaan

Saya meminjaminya uang? Tidak. Dengan tegas saya katakan, “Jual mobilmu saja, gantilah dengan mobil yang lebih sederhana agar kamu bisa membayar hutangmu.”
“Hah! Menjual mobil, apa kata dunia?” jawabnya.
Rupanya ia memiliki banyak kekhawatiran bila hidupnya sederhana. Ia khawatir ditinggal mitra bisnisnya, tidak mendapat penghormatan dari orang lain dan sulit masuk pergaulan orang-orang elit. Menurut saya, orang yang seperti ini mempersulit hidupnya. Dalam jangka panjang justru dia akan kehilangan mitra bisnis dan penghormatan dari orang lain.
Sebenarnya hidup itu simpel. Sayang banyak yang membuatnya jadi rumit. Masalah yang solusinya sederhana dibuat ruwet agar telihat hebat. Semoga Anda tidak begitu. Karena, percayalah, hidup seperti itu hanya akan menyusahkan bahkan bisa menjerumuskan dan menghancurkan hidup Anda.
Coba bandingkan dengan kehidupan mas Saat, sahabat saya dari Wonosobo. Ketika bisnisnya BMT Tamzis membuka cabang di Jakarta, ia santai saja tidur di kantor bersama karyawan yang lain. Setiap Jumat sore pulang ke Wonosobo menggunakan bus.
Ia konsisten menjalankan prinsip bisnisnya: memindahkan perputaran uang di Jakarta ke Wonosobo, agar bisnis di kampung halamannya itu hidup. Sementara gaya hidupnya tetap sederhana, walau sudah “menjakarta”.
Sabtu, 30 Juni 2011, saya berkesempatan ke Wonosobo memberikan seminar dari buku ketiga saya: Tuhan Inilah Proposal Hidupku. Sahabat saya itu, walau bukan panitia, menyediakan waktu menjemput saya ke hotel untuk sarapan di kantornya.
Dari lantai 5 kantor yang kini sudah menjadi milik BMT Tamzis saya bisa melihat pemandangan indah kota Wonosobo. Ketika saya bertanya berapa aset BMT Tamzis, dia menjawab ringan “Ya, dua ratusan milyar, mas.”
Usai acara, saya dijamu lagi oleh mas Saat dan teman-teman BMT di Wonosobo. Dengan menggunakan mobil yang tidak jauh beda dengan lelaki yang punya hutang Rp 40 juta tadi saya diajak jalan-jalan sambil menikmati mie ongklok, makanan khas Wonosobo.
Kami makan di warung kecil yang sederhana. Bukan hanya mie-nya yang nikmat, suasana ngobrol dan gaya hidup mas Saat menambah nikmatnya makan siang ketika itu. Bersama mas Saat saya menghabiskan 3 mangkuk mie ongklok.
Ketika saya pamitan hendak menuju Purworejo, mas Saat berkata, “Nanti mas Jamil lewat pasar Kertek, di sebelah kiri ada toko busana Merah Putih, itu usaha keluarga saya. Silahkan kalau mau mampir.”
Sayang saya tidak sempat mampir karena harus buru-buru ke acara lain di Purworejo. Namun saya sempat melewati toko busana yang ternyata sangat besar.
Melihat toko yang besar itu saya berkomentar, “Wih, pasti omzetnya ratusan juta setiap bulannya.” Komentar saya tersebut diaminkan oleh orang yang ditugaskan mengantakan saya ke Purworejo.
Mas Saat telah mengajarkan kepada saya bahwa hidup sederhana itu ternyata membahagiakan. Rasa kagumku semakin menjadi kepada sahabatku yang bersahaja ini.
Seharusnya, batin saya, lelaki yang punya hutang Rp40 juta tadi meniru gaya hidup Insinyur yang bernama lengkap Saat Suharto Amjad ini.
Salam SuksesMulia!

Kamis, 12 Februari 2015

BATAS USIA PENSIUN


UU Tenaga Kerja Tidak Menentukan Batas Usia Pensiun

Usia pensiun, kapan kita mulai memasuki usia pensiun? Apa Undang-Undang mengatur mengenai batas usia pensiun bagi pekerja Indonesia? Gajimu membahas mengenai peraturan batas usia pensiun.
Sebagai pekerja tentunya kita harus memikirkan rencana masa depan dikala kita memasuki masa/usia pensiun. Akan tetapi, apakah Anda mengetahui kapan Anda memasuki usia pensiun? Berapa batas usia pensiun? Mari kita tilik bersama mengenai batas usia pensiun bagi pekerja di Indonesia.
Apakah ada perundang-undangan di Indonesia yang mengatur mengenai batas usia pensiun?
Dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak mengatur kapan saatnya pensiun dan berapa Batas Usia Pensiun (BUP) untuk pekerja sektor swasta. Dalam pasal 167 ayat 1 UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa salah satu alasan pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah karena pekerja telah memasuki usia pensiun. Akan tetapi tidak diatur secara jelas dan tegas pada usia berapa batas usia pensiun berlaku. Ketentuan mengenai batas usia pensiun ditetapkan dalam Perjanjian Kerja (PK), Peraturan Perusahaan (PP)/ Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perundangan yang berkaitan dengan masa pensiun menurut Pasal 154 huruf c UU Ketenagakerjaan.
Apabila tidak ada peraturan tegas dari Undang-Undang Ketenagakerjaan, lalu berapa batas usia pensiun yang rata-rata diterapkan oleh perusahaan?
Penentuan mengenai batas usia pensiun biasanya merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam perusahaan, atau berpedoman pada beberapa UU yang mengatur hak-hak yang berkaitan dengan masa pensiun, seperti UU Jamsostek, UU mengenai Dana Pensiun atau UU Kepegawaian serta UU mengenai profesi tertentu.
Contohnya pada pasal 14 ayat 1 UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja menyebutkan bahwa Jaminan Hari Tua (JHT) dibayarkan kepada tenaga yang telah mencapai usia 55 tahun. Ketentuan tersebut merupakan saat timbulnya hak atas JHT yang dapat dianalogikan sebagai saat mencapai batas usia pensiun.
Sama halnya dengan UU No. 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun yang menyebutkan bahwa hak atas manfaat pensiun dengan catatan batas usia pensiun normal adalah 55 tahun dan batas usia pensiun wajib maksimum 60 tahun. Lagi-lagi ketentuan tersebut dianalogikan sebagai batas usia pensiun bagi pekerja.
Apakah ada peraturan Undang-Undang yang mengatur mengenai batas usia pensiun bagi pegawai negeri sipil?
Ya. Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur batas usia pensiun, antara lain batas usia pensiun pada jabatan seperti guru, dosen, dan pegawai negeri/pejabat Negara: PNS, Hakim, Tentara/Polisi. Berikut adalah batas usia pensiun bagi berbagai jenis pekerjaan beserta dasar hukum/UU yang mengaturnya.
NoNama Jabatan/ GolonganBatas Usia Pensiun (BUP)Dasar Hukum
1 PNS Umum 56 Tahun Pasal 3 ayat 2 PP No. 32 Th 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, yang diubah menjadi PP No. 65 tahun 2008
2 Ahli Peneliti dan Peneliti 65 Tahun Pasal 1 PP No. 65 tahun 2008
3 Guru Besar/ Professor 65 Tahun Pasal 67 ayat 5 UU No.4 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
4 Dosen 65 Tahun
5 Guru 60 Tahun Pasal 40 ayat 4 UU No.4 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
6 POLRI 58 Tahun Pasal 30 ayat 2 UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
7 POLRI dengan keahlian khusus 60 Tahun
8 Perwira TNI 58 Tahun Pasal 75 UU No. 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia 
9 Bintara dan Tantama 53 Tahun
10 Jaksa 62 Tahun Pasal 12 UU No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
11 Eselon I dalam jabatan Sruktural 60 Tahun Pasal 1 PP Nomor 65 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas PP No.32 tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil
12 Eselon II dalam jabatan Struktural 60 Tahun
13 Eselon I dlm jabatan strategis 62 Tahun
14 Pengawas Sekolah 60 Tahun Pasal 1 PP Nomor 65 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas PP No.32 tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil
15 Hakim Mahkamah Pelayaran 58 Tahun
16 Jabatan lain yang ditentukan Presiden 58 Tahun
17 Pekerja/ Buruh  Berdasarkan PK, PP, PKB Pasal 154 UU No. 13 tentang Tenaga Kerja
Sumber :
  • Indonesia. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja
  • Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun
  • Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
  • Indonesia. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-02/Men/1995 tentang Usia Pensiun Normal dan BUP Maksimum Bagi Peserta Peraturan Dana Pensiun

Senin, 09 Februari 2015

SAYA ADALAH SAYA

Saya adalah saya.


(dikutip dari blog Fajar Subekti)

Dari sejak muda saya tidak suka memusingkan pendapat orang lain, terutama yang suka menghakimi kebaikan orang lain – padahal dia sendiri masih palsu dan buruk perilaku.


Saya adalah saya.


Jika saya bisa membahagiakan sesama, itu sudah sebuah keberhasilan. Saya tidak harus pandai untuk memperbaiki kekeliruan di lingkungan, dan saya tidak harus kaya untuk membantu.


Saya tidak merasa kurang dan tidak merasa lebih dari orang lain.


Saya hanya tegas mengabaikan orang yang sok mengatur saya, padahal hidupnya masih lemah dan tidak amanah.


Saya adalah saya.


Kalau ada orang yang menilai saya rendah, saya tidak menantangnya untuk mencapai yang sudah saya capai. Saya akan mempelajari cara untuk menjadi setinggi dia, jika dia tinggi; atau bersabar jika dia hanya pembenci yang rendah.


Jika dia orang kecil yang sok tahu, saya berfokus pada yang diketahuinya, bukan pada soknya.


Tapi saya bukan dia, dan saya akan tetap menjadi saya.


Jika dia menganggap saya salah, saya periksa seberapa banyak dia tahu, dan seberapa benar yang diketahuinya. Jika yang diketahuinya sedikit atau banyak tapi tidak benar, saya abaikan. Jika yang diketahuinya sedikit dan benar, saya perhatikan, dan saya memuridkan diri.


Tapi, siapa pun – berapa besarnya dan luasnya pengetahuannya, tapi menyombongi saya dengan ilmunya, saya abaikan.


Saya adalah saya.


Saya tidak mungkin seluruhnya benar, TAPI saya juga tidak mungkin seluruhnya salah.


Saya ingin sekali bertanya kepada mereka yang sombong itu:


Memang, kalau Anda merasa demikian benar, Anda itu sudah menjadi apa?


Saya adalah saya. Campuran antara minder dan sombong, tahu dan pilon, patuh dan pemberontak, penurut dan pembangkang, penyayang dan petarung, penceria dan penyedih, yakin dan ragu, dan penyabar dan pemarah.


Saya tidak harus sama dengan siapa pun, tapi perbedaan yang ada pada saya haruslah membaikkan kehidupan sesama.


Saya adalah saya.

Jika Anda tidak suka, saya terima. Hiduplah dalam kehidupan Anda, dan biarkan saya mandiri di dalam kehidupan saya.

Jika Anda suka, saya bersyukur. Semua yang yang saya lakukan adalah untuk kebaikan Anda, sebagai cara saya untuk membahagiakan Tuhan.

Saya adalah saya.


Dan saya berdoa agar saya dijadikan sahabat bagi kecemerlangan dan kemuliaan hidup Anda."

Minggu, 08 Februari 2015

YA ALLAH, TOLONG AKU (AKU SEDIH. AKU BINGUNG. AKU KESAL) KARYA A.K.

YA ALLAH, TOLONG AKU (AKU SEDIH. AKU BINGUNG. AKU KESAL) KARYA A.K.

Dari covernya saja, pembaca bisa mengetahui kira-kira apa yang ada di dalam buku berjudul "Ya Allah, Tolong Aku (Aku Sedih. Aku Bingung. Aku Kesal) karya A.K ini. Covernya berwarna hitam dengan gambar seorang gadis yang sedang sedih, bingung dan kesal. Buku setebal 309 halaman ini cukup mudah dibaca dan dipahami.

Buku ini khusus ditujukan untuk orang-orang yang sedang dilanda masalah dan merasa sebagai orang termalang di dunia. Banyak ayat-ayat Al Quran dicantumkan sebagai reminder bahwa semua masalah, ujian adalah dari Allah SWT dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan.

Buku sebanyak 20 bab ini sebenarnya terbagi atas 3 bagian besar, yaitu bagian pada saat kita mendapat masalah, bagian tentang keberadaan kita sebagai manusia, dan bagian pasrah meminta pertolongan kepada Allah SWT.

Pada bab saat kita mendapat masalah, penulis mencantumkan QS Al Imran : 139:

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." ( QS. Ali Imran 3:139 )

Di saat kita mengeluh karena diberikan ujian musibah oleh Allah, AK menuliskan..
" Janganlah gundah, wahai saudaraku. Jika Anda sedang mengalami suatu kesedihan, jangan merasa bahwa kesedihan itu begitu berat bagi Anda dan tidak dapat diobati. Janganlah merasa Allah tidak tahu keadaan diri kita dan menimpakan musibah yang tidak sesuai dengan keadaaan diri kita atau memberi beban yang tidak mampu kita pikul. Kesedihan Anda PASTI akan hilang, PASTI dapat diobati, PASTI dapat Anda atasi. Karena Allah sudah mengukur setiap kesedihan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing".

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS Al Baqarah 286)

INGAT!

• Hanya Allah yang mengetahui alasan kenapa Anda diberi musibah atau kesedihan
• Lihatlah diri Anda. Apa Anda sudah mensyukuri nikmat-Nya?
• Semua yang ditimpakan kepada Anda sudah diatur dengan sebaik-baiknya oleh Allah. Jadi jangan takut, Anda pasti dapat mengatasi kesedihan Anda.

Jika seseorang telah ditekan hingga ke batas yang menurutnya tidak sanggup untuk dipikulnya, jika ia merasa semua yang dilakukannya tidak membawa perubahan apa-apa, maka manusia akan berputus asa.

لَا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاء الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَؤُوسٌ قَنُوطٌ

"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan." (QS Al Fushshilat 49)

APA GUNANYA AKU HIDUP TERUS?

Inilah tingkat keputusasaan yang paling tinggi yang dialami oleh manusia. Jika keadaan benar-benar terasa begitu sulitnya, jika semuanya terasa gelap, jika hati ini ntidak tahu harus berbuat apapa lagi, manusia yang lemah imannya akan memiliki niatan untuk mengakhiri hidupnya.

Ingatlah ini baik-baik wahai sandaraku: Anda masih diberikan hidup. Itu berarti Allah masih sayang kepada ANda. Anda masih diberikan nikmat yang paling tinggi dari semua nikmat yang ada di dunia ini. Dengan masih diberikan hidup, Anda berarti masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri Anda.
Yang kedua (dan yang paling penting), sesungguhnya bunuh diri itu adalah suatu dosa yang sangat besar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ
عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS An Nisa 29-30)

Renungkanlah pula sabda Rasulullah SAW berikut ini:
" Seseorang yang mencekik dirinya sendiri (bunuh diri) maka ia akan mencekik dirinya sendiri di neraka. Dan seseorang yang menusuk dirinya sendiri (bunuh diri) maka ia akan menusuk dirinya sendiri di neraka " (HR Bukhari)


Hidup Anda di dunia mungkin memang susah,
Tapi apakah anda juga ingin hidup susah di akhirat nanti?

HIKMAH MUSIBAH

Sesungguhnya di balik semua musibah dan kesedihan yang diberikan Allah kepada manusia, tersimpan suatu hikmah dan rahmat yang besar yang kadang tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Beberapa diantara hikmah yang diberikan Allah di balik musibah adalah;
1. Untuk menguji iman manusia
2. Untuk mematangkan diri manusia
3. Untuk memperingatkan manusia atas dosa-dosanya
4. Untuk mengobati hati yang sombong dan takabur
5. Untuk menyeleksi manusia yang benar-benar beriman
6. Untuk memberikan pahala dan rahmat yang besar

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. "(QS Al Anfaal 28)

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيراً وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. " (QS Al Imran 186)


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. "(QS Al Anbiyaa 35)

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? " (QS Al Ankabut 2)


أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS Al Imran 142)


أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS AlBaqarah 214)


" Tidaklah seorang muslim menderita karena kesedihan, kedukaan, kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya." (HR. Bukhari)
Jadi, sebenarnya Anda bersyukur jika diberi kemalangan. Itu tandanya Allah telah memilih Anda untuk diberikan pahala yang sangat besar.

Terkadang suatu masalah sangat berat jika dihadapi sendiri. Anda butuh seorang teman untuk meringankan masalah Anda, atau setidaknya untuk mendengar keluh kesahAnda. Di saat-saat seperti inilah Anda membutuhkan teman, seseorang yang bisa sangat mengerti kesedihan dan penderitaan yang sedang Anda alami.

" Friend in need is a friend indeed.
Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu menolong di saat kita membutuhkannya"
(Anonim)

" Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin yang lain. Dia tidak akan membiarkan saudaranya disia-siakan dan dicampakkan, dan dia akan menjaganya dari belakang". (HR Bukhari)

KESEDIHAN HARUS BERHENTI DARI SEKARANG!

Kini saatnya Anda mengangkat tangan dan berteriak:
" STOP! Kamu hanya bisa sampai disini saja, wahai Kesedihan!"

Tips-tips:
• If fate gives us lemon, try to make lemonade. Jika takdir memberi kita jeruk, cobalah membuat es jeruk (Anonim)
• Crowd your worry with busy. Singkirkan kegelisahan dengan kesibukan (Dale Carnegie)
• Cari suasana dan lingkungan yang baru. Hidup Anda yang lama akan terlupakan
• Bahagiakanlah diri Anda dengan melakukan hal-hal yang membuat Anda bahagia
• Hidup ini terlalu singkat. Nikmatilah hidup ini
• Belajarlah mendapatkan kebahagiaan dengan memberi kebahagiaan kepada orang lain


YA ALLAH, DIMANAKAH ENGKAU?


Sesungguhnya di saat-saat seperti ini, Allah sedang membuka pintu "persahabatan" kepada Anda. Di balik segala musibah dan kesedihan yang Dia berikan, Allah seolah-olah berkata:

" Kemarilah hamba-Ku yang selama ini telah melupakan-Ku. Minta tolonglah kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongmu"


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah 186)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QA Qaaf 16)

Rasulullah bersabda:“Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ketika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu. Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari”. (HR Bukhari dan Muslim)

RENUNGAN TERAKHIR

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?
2. Dan mengangkat bebanmu dari (pundak)mu
3. Yang telah memberatkan punggungmu?
4. Dan meninggikan untukmu sebutan namamu
5. Karena sesungguhnya setiap kesulitan ada kemudahan
6. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan
7. Maka jika engkau sudah bebas, tetaplah tabah bekerja keras!
8. Dan jadikanlah Tuhanmu sebagai tujuan engkau semata!

(QS Al Insyirah 1-8)



Semoga bermanfaat.....;)

Kamis, 04 Desember 2014

SRI UTAMI, TOKOH INSPIRATIF PEMILIK RS MOJOSONGO SOLO



Sri Utami, Manajer yang Jadi Buruh Cuci (1)
Senin, 21 Mei 2012
Sri Utami
Foto: Romy Palar/Nova
Inilah Sri Utami , satu dari 10 Perempuan Inspiratif NOVA 2011. Dalam tempo 10 tahun, ia mendirikan tiga buah Rumah Sakit (RS) bernama Mojosongo. Sebelumnya, ia seorang manajer perusahaan yang kemudian melakoni pekerjaan sebagai penjaja jamu keliling dan barang rosokan. Ia juga pernah mencicipi jadi buruh cuci pakaian dan memasak untuk para kuli bangunan. Sore hingga malam, ia menjelma menjadi instruktur senam aerobik dan penyanyi di cafe. Simak dasyatnya lika-liku perjalanan hidup ibu empat anak ini.
Sekarang ini, aku memang memiliki tiga RS untuk ibu dan anak bernama RS Mojosongo. Lokasinya di Solo, Palur, dan Delanggu. Semuanya masuk Karesidenan Surakarta. Tiga RS itu aku bangun untuk masyarakat miskin yang sakit. Yang aku bangun bukan hanya gedung dan peralatannya, melainkan juga sistemnya. Aku ingin orang miskin yang sakit bisa berobat dengan harga terjangkau oleh kantong mereka.
Lain dari tujuan mulia itu, RS Mojosongo ini awalnya aku persembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk suamiku yang jatuh pada tanggal 1 April.
Aku dilahirkan di Kediri, 13 Oktober 1948. Bapakku, selain seorang tokoh agama yang terkenal kala itu, adalah penilik sekolah. Sementara ibuku, Sihmini, berprofesi sebagai kepala sekolah Sekolah Rakyat.
Semasa remaja, pagi aku sekolah bidan, sore di SMA. Setelah lulus, aku bekerja sebagai bidan di PKU Solo, sembari meneruskan kuliah di jurusan Filsafat Kebudayaan IKIP Negeri Solo hingga meraih gelar sarjana muda. Lulus kuliah, aku sempat bekerja di sebuah perusahaan di Bandung. Jabatan terakhirku manajer personalia. Kerja baikku membuahkan hasil. Gajiku cukup untuk hidup, bahkan aku bisa membeli tiga buah mobil.
Lalu, suatu kali aku harus pulang ke Solo dan menikah dengan pemuda bernama Muzakir, yang kala itu berprofesi sebagai guru SD. Sebenarnya ada beberapa pemuda yang menaksirku dan mereka sering bertandang ke rumah orangtuaku. Tetapi Bapak bilang, sebaiknya aku menikah saja dengan Muzakir karena ibadahnya bagus.
Aku sempat mengajukan keberatan dengan calon pilihan Bapak. Muzakir berasal dari keluarga miskin, sementara kami saat itu tergolong terpandang dan berada. Tapi Bapak tetap pada pendiriannya. Beliau yakin, rumah tanggaku akan lebih baik bersama Muzakir. Aku pun akhirnya menuruti nasihat Bapak. Kelak, pilihan Bapak terbukti benar.
Nah, sejak menikah itulah kulepaskan jabatanku sebagai manajer perusahaan dan hidup di Solo bersama suami. Lalu, aku bekerja sebagai guru di SLTA swasta di Cokro. Hidupku pun berubah.
Sri Aerobik
Dulu, Sri pun mengajar senam aerobik dan fitness."Padahal, aku belajar hanya dari CD, lho,''ujarnya. (Foto: Dok Pri)
Menjadi Buruh Cuci
Di awal pernikahan, kami masih tinggal di rumah kontrakan. Kami kemudian membeli rumah dengan cara mengangsur di kawasan Perumnas Palur. Sekadar info, kala itu Perumnas Palur sedang gencar dilakukan pembangunan perumahan besar-besaran bagi pegawai negeri.
Nah, melihat banyak rumah dibangun, terpikir olehku untuk menawarkan jasa menjadi buruh cuci baju dan masak bagi para tukang bangunan itu. Ternyata mereka mau. Per hari, aku diberi uang makan Rp 150 per orang. Padahal ada beberapa rumah yang tengah dibangun. Minimal saat itu ada 20 tukang yang aku cucikan bajunya.
Agar hidup terus berlangsung, aku harus kerja keras. Tiap hari, aku sudah melakukan aktivitas sejak jam 24.00. Setelah beres-beres urusan rumah, aku salat tahajud dan berzikir . Sekitar jam 02.00 aku sudah ke pasar untuk belanja sayuran
Pekerjaan yang aku lakoni tak berhenti di situ. Jam 03.00 aku lanjutkan dengan berjualan jamu dari pabrik milik Pak Jaya Suprana di Semarang. Paling tidak selama sejam aku jualan jamu melayani pekerja kasar yang sudah meramaikan pasar di pagi hari.
Menjelang Subuh aku pulang. Bila terdengar azan, aku segera salat subuh di masjid yang kulewati. Tiba di rumah, aku jualan sayuran ke para tetangga. Tak sedikit dari mereka yang berutang dulu. Selesai jualan sayur, aku masak dan mencuci baju tukang bangunan. Selesai itu, aku mulai mempersiapkan anak-anak berangkat ke sekolah. Aku sendiri yang mengantar-jemput mereka ke sekolah dengan naik mobil. Kadang sambil mengantar anak ke sekolah, aku mampir ke rumah teman atau orang-orang untuk membeli kaleng-kaleng bekas.
Oh ya, kadang malam hari aku juga masih jualan jamu keliling, lho. Biasanya aku keliling kampung pakai mobilku sendiri. Untuk itu aku dimodali bensin 5 liter dari perusahaan jamu. Daganganya aku beli kontan, jadi untungnya bisa kukantungi sendiri. Lumayan, kok, hasilnya. Rutinitas sebagai buruh cuci, tukang masak, jualan klithikan , dan jualan jamu keliing aku lakukan sekitar 5 tahun lamanya. Mulai dari belum punya anak, sampai anakku 4 orang.
Kel Sri Utami
Bersama suami dan keempat putra-putrinya. Sri kini merasa hidupnya sudah semakin lengkap. (Foto: Dok Pri)
Sekolahkan Suami
Ada kisah unik kala aku harus melahirkan anak pertama dan keduaku. Asal tahu saja, keduanya aku lahirkan di rumah. Persalinannya kulakukan sendiri dengan dibantu suami. Aku yang memotong tali pusarnya, setelah pisau pemotong ari-ari disterilkan suamiku. Alhamdulillah, kami bisa kerjasama dengan baik dan akhirnya persalinan bisa selamat. Persalinan anak ketiga dan empat, juga kulakukan bersama suami. Bedanya kala itu suamiku sudah menjadi dokter.
Ya, dari guru SD, suamiku kemudian memang menjadi dokter spesialis anestesi. Aneh? Ah, tidak. Semua ada proses dan kisah panjangnya. Aku mulai ceritanya dari masa pengantin baru saja, ya. Jadi, selain mengajar di SD dan berstatus PNS, suamiku juga nyambi jualan minyak tanah keliling dengan cara dipikul. Aku yang kemudian meminta suamiku meneruskan studinya hingga bisa meningkat menjadi guru SMP.
Singkat cerita, suamiku bisa meraih gelar sarjana muda. Statusnya pun meningkat jadi guru SMP. Ia lalu kuliah S1 dan bisa menjadi guru SMA, bahkan dosen. Aku senang dan ikhlas selama membiayai dia kuliah. Aku berlagak banyak uang saja saat itu. Padahal aku kerja keras apa saja asal menghasilkan uang. Suamiku malah tidak tahu dari mana saja aku mendapatkan uang untuk membiayai sekolahnya.
Suatu kali suami cerita kepadaku, dirinya pernah diterima sebagai mahasiswa kedokteran di AMN Angkatan Laut. Tapi baru 9 bulan terus dipulangkan. Nah, dari cerita itulah akhirnya aku tergerak menyekolahkan suami ke Fakultas Kedokteran di PTPN Solo.
Jujur, saat itu kuliah di fakultas kedokteran swasta mahalnya luar biasa. Kamipun harus hidup serba prihatin. Dulu, yang bisa tinggal di Perumnas, kan, PNS yang sudah berpangkat. Ada aneka profesi yang tinggal di sana. Nah, ketika kumpul-kumpul bersama ibu PKK, ada saja yang tak mau duduk bersebelahan denganku yang hanya buruh cuci dan jualan sayuran. Tapi aku tak berkecil hati.
Aku pun menarik diri dan lebih suka berasyik ria dengan duniaku sendiri. Berjualan, mengurus anak dan suami, serta beramal. Aku suka sekali menabung dan setelah terkumpul kubelikan obat-obatan. Setelah terkumpul, aku dan suami mengadakan pengobatan massal gratis di satu tempat. Biasanya aku dibantu teman-teman atau murid senamku. Oh ya, aku lupa menceritakan, bila pagi menjadi buruh cuci, sore harinya aku masih sempat mengajar senam aerobik dan fitness buat ibu-ibu.
Akhirnya, suamiku pun jadi dokter. Kabar itu kemudian tersiar ketika tukang foto yang kumintai tolong memotret suami saat disumpah sebagai dokter mengedarkan foto acara itu ke tetangga. Semua orang kaget. Mereka tak mengira, si penjual sayuran ternyata suaminya kini seorang dokter. Ha ha ha.
Reaksi berbeda datang dari penghuni Perumnas yang kaya-kaya. Ibu-Ibu yang semula tak mau duduk bersanding denganku di acara kumpulan PKK, tanpa alasan jelas tiba-tiba ada yang datang ke rumah di siang hari. Perangai mereka pun berubah baik kepadaku. Air muka mereka tak lagi menghadapi perempuan si penjual sayuran, melainkan istri dokter!
Rini Sulistyati / bersambung

 Sri Utami Ingin Bertemu Dahlan Iskan (2)
Senin, 21 Mei 2012
sri utami
Foto: Romy Palar/Nova
Menjadi istri dokter Puskesmas di sebuah desa terpencil di Blitar (Jatim) membuat Sri Utami stres. Hatinya hancur setiap melihat warga miskin di sekitarnya tak bisa berobat karena terbentur masalah biaya. Berniat menolong mereka, Sri membuat Rumah Sakit (RS) dengan harga terjangkau. Tak hanya satu, ia mendirikan tiga RS Mojosongo.
Usai suami diwisuda menjadi dokter, aku dan empat anak kami diboyong suami ke Desa Bakung, Blitar (Jatim). Suamiku ditugaskan sebagai dokter Puskesmas dan diberi rumah dinas di tengah hutan. Maka, segala macam profesi yang aku lakoni kuhentikan. Aku pun berubah menjadi ibu rumah tangga 100 persen.
Rumah dinas suamiku dikelilingi pohon besar. Bila angin bertiup kencang, aku ketakutan. Kadang rumah kami juga kemasukan ular. Di rumah yang terpencil ini aku seakan terisolasi. Jangankan menyalurkan hobiku menulis artikel di berbagai koran dan majalah, membaca surat kabar saja aku tak bisa. Dengan kata lain, aku mendadak stres!
Setiap hari, aku juga ‘dipaksa’ menyaksikan pasien yang rata-rata tidak mampu. Macam-macam kasus yang aku temui. Misalnya, ada perempuan hamil tapi tak tahu siapa bapaknya, ada juga ibu yang membunuh bayinya sendiri. Melihat kenyataan seperti itu, aku semakin stres.
Memang, sebagai istri pejabat di tingkat kecamatan aku pun sering mendapat undangan kumpul bersama, makan-makan di kecamatan. Tapi kegiatan itu sangat tidak aku sukai. Bagaimana mungkin aku menikmati acara makan-makan sementara warga sekitarnya ketika itu belumlah sejahtera.
Ranjau Kehidupan
Untuk menghilangkan stres, akhirnya aku memilih ikut ke lapangan saat suamiku mengadakan pengobatan massal dari desa ke desa. Biasanya aku jadi seksi sibuk, membantu menyiapkan obat-obatan atau melakukan apa saja.
Karena keseringan melakukan aksi seperti itu, suamiku mendapat julukan Dokter Umplungan . Pernah Pak Dahlan Iskan, yang sekarang menjadi Menteri BUMN, menulis tentang aksi suamiku saat beliau masih jadi wartawan. Akibatnya, suamiku semakin terkenal. Beberapa koran lokal dan nasional ikut menuliskan kisahnya. Imbasnya, suamiku terpilih menjadi dokter teladan. Awalnya hanya tingkat kabupaten, lalu tingkat Provinsi Jawa Timur, dan terakhir tingkat Nasional di tahun 1985.
Bila ingat itu semua, kini rasanya aku ingin sekali bertemu Pak Dahlan Iskan. Pasalnya, aku turut menikmati senangnya saat suamiku dinobatkan jadi dokter teladan. Selama sebulan aku diajak suami ke Jakarta menginap di Hotel Wisata. Banyak acara bergengsi yang kami datangi di zaman Orde Baru itu.
Meski begitu, selama delapan bulan menjadi dokter Puskesmas, suami tak kunjung mendapatkan gaji. Alhamdulillah, kami bisa bertahan dengan uang hasil penjualan mobil dan barang berhargaku di Solo. Ditambah lagi, dari Solo aku membawa aneka benih tanaman pemberian para bakul dan tukang becak di pasar. Benih-benih sayuran itu aku tanam di halaman rumah dinas yang luas. Hasilnya bisa kupetik untuk disayur setiap hari.
Selama menjadi istri dokter Puskesmas, aku juga kenyang makan singkong pemberian para pasien. Mereka tak membayar jasa suamiku dengan uang, melainkan dengan singkong! Akibatnya, di dapurku bertumpuk singkong. Kadang singkong itu aku goreng, lalu aku masukkan ke kaleng-kaleng, lantas kubagikan lagi ke pasien atau tamu yang datang ke rumah. Sisanya kami makan sendiri. Ha ha ha.
Setelah suami menjadi dokter teladan, kami kembali ke Solo. Dari sinilah terbetik keinginanku agar suami kembali kuliah, mengambil spesialis. Ketika kuutarakan niatku menyekolahkan suami sebagai dokter spesialis, eh, dia marah. Dia bilang, kami sudah melalui serangkaian “ranjau” kehidupan, jadi kini giliran uangnya yang membiayai anak-anak.
Selagi dia marah, aku diam saja. Setelah puas marahnya, aku jelaskan bahwa aku akan bekerja lagi untuk membiayai kuliahnya. Akhirnya suamiku luluh. Dia mau kuliah lagi mengambil spesialis anestesi di FK UNDIP Semarang.
Kami pun berpisah jarak lagi karena dia harus kos di Semarang. Tapi dengan kondisi itu aku bisa leluasa bekerja lagi. Kali ini pekerjaanku lebih “elit”. Aku berkecimpung di dunia entertainment . Aku sewa ruangan di hotel sebagai arena menyanyi. Aku jualan tiket bagi orang-orang yang ingin bersenang-senang, menyanyi dan kumpul teman. Aku juga kembali mengajar senam, mengajari memotong rambut, mengajari memasak, menyanyi tiap malam di kafe. Kadang juga menjadi MC.
Semenjak tinggal di kota, aku juga bisa menulis artikel lagi untuk berbagai majalah. Juga memotret untuk murid senam yang kepengin difoto. Pernah, lho, karya fotoku meraih juara di perlombaan yang diadakan salah satu produsen mobil.
RS Mojosongo 2
Inilah salah satu RS Mojosongo milik Sri Utami. " Awalnya ini adalah hadiah ulang tahun buat suami,''ujarnya. (Foto: Repro, Rini/NOVA)
Berkelana ke Kupang
Karena pekerjaanku banyak, uangku juga praktis jadi banyak. Masing-masing hasil kerja kupilah-pilah. Kerja dari kegiatan A untuk biaya kuliah suami, kerja B untuk biaya sekolah anak, dan kerja C untuk amal. Suami tak tahu apa saja jenis pekerjaanku. Tahunya tiap kali butuh bayar kuliah, aku ada uang. Suami dan anak-anak juga baru tahu jenis pekerjaan yang pernah kulakoni setelah aku menuliskan kisahku untuk mengikuti ajang Perempuan Inspiratif NOVA 2011! Ha ha ha.
Membiayai suami dan anak-anak sekolah tidak membuatku mengeluh seperti ibu-ibu para murid senamku. Memang aneh. Mereka punya suami mapan, ada penghasilan, tapi masih mengeluh soal suami dan anaknya. Keluhan-keluhan itu biasanya ditumpahkan kepadaku. Semua kutampung dan semakin mendewasakan aku. Maklum, orang berduit ikut senam, kan, buat pelepasan dari perseoalan yang muncul di keseharian juga.
Nah, kembali ke soal kuliah suamiku, ya. Ketika suami lulus sebagai dokter anestesi, anak-anak masih SMA. Yang kecil bahkan masih SD. Suatu kali suami memberitahu bakal ditugaskan ke Kupang. Wah, betapa kecewanya aku. Sudah habis-habisan tak pernah kumpul dengan suami, eh, setelah lulus dia mau ke Kupang. Sewotlah aku! Saat melepas kepergiannya di bandara, tak sekalipun aku tersenyum kepadanya.
Suatu kali aku terima berita dari Kupang yang mengabarkan suamiku mengalami tremor. Aku diminta segera datang ke Kupang bersama Zain, anak bungsuku. Berbekal uang seadanya aku berangkat ke Kupang tanpa mengabari suami sebelumnya. Eh, ternyata suamiku di sana sehat-sehat saja.
Setibanya di Kupang suami melarangku pulang ke Solo. Jadilah aku tinggal di sana hingga sembilan bulan lamanya. Tiga anakku di Solo hidup dari uang hasil dagangan berbagai macam barang yang kukreditkan. Untungnya anak sulungku perempuan dan saat itu sudah pintar mengurus dagangan ibunya.
Di Kupang, direktur RS tempat suamiku bpraktik membuatkan ruangan senam bagi para perempuan se-provinsi Kupang. Aku diminta jadi instrukturnya. Aku pun diberi mobil dinas pribadi plus uang bensin untuk mobilitasku selama di sana. Yang paling menggelikan, suatu kali aku belanja ke pasar. Eh, aku dikerubuti orang sepasar. Mereka berteriak-teriak, “Dewi Sartika! Dewi Sartika!” Aku bingung tak tahu apa maksudnya. Karena takut, aku pun ngacir pulang. Belakangan baru aku tahu, orang di pasar mengira aku Dewi Yull, pemeran Dokter Sartika. Sinetronnya di TVRI kala itu memang sedang ngetop.
Asal tahu saja, ketika itu penampilanku memang belum pakai kerudung. Aku masih suka pakai gaun backless , dengan kulit mulus dan harum karena rajin luluran. Kemana-mana pun aku selalu pakai sepatu hak tinggi. Trendi lah pokoknya. Ha ha ha.
Sri Utami bersama keluarga
Sri bersama suami dan putra bungsunya, keduanya kini berprofesi sebagai dokter. (Foto: Repro, Rini/NOVA)
Rumah Sakit Kandang Ayam
Dari Kupang, suamiku pindah tugas lagi menjadi staf ahli di RS Karyadi, Semarang. Aku turut kembali dan tinggal di Solo. Ketika ibundanya Ibu Tien sakit, suamiku dipindahkan ke RS DKT Solo untuk ikut merawat. Mulailah kami hidup “normal” dan tinggal serumah lagi.
Di Solo, ruang gerakku pun semakin leluasa. Mulailah aku keluar-masuk kelurahan melihat statistik penduduk Solo. Ketika itu sudah terpikir olehku untuk membuat sebuah RS sebagai kado ulang tahun suamiku. Kupikir, seorang dokter yang diberi hadiah RS, pasti akan senang. Bila dia senang, aku sebagai istri pun turut senang.
Uang yang aku pakai membangun RS ini murni hasil kerjaku. Asal tahu saja, sampai sekarang aku masihberbisnis, lho. Bedanya, sekarang bisnisku merambah dari sepatu, perawatan badan (luluran), hingga permata. Aku tidak langsung menanganinya, melainkan dikerjakan orang lain.
Awalnya, ada yang menghina RS yang aku dirikan sebagai RS kandang ayam. Tapi menurutku ini RS yang hebat. Memang, aku memulainya dari satu pegawai. Aku bertindak sebagai pembantu umum. Aku membantu memasak, menggantikan posisi sopir, sampai menyapu lantai. Akibatnya, pernah ada pegawai baru mengusirku agar tak duduk di ruang depan karena dia hendak bersih-bersih. Aku tidak marah karena dia tidak tahu bahwa akulah pemilik RS itu. Ha ha ha.
Meski memiliki rumah pribadi di Jl Mangkunsarkoro, aku justru lebih sering tinggal di RS Mojosongo 1 karena di sana aku ada teman. Maklum, suami dan anak-anakku sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zain, anak bungsuku, kini sudah menjadi dokter dan sekarang mengelola RS Mojosongo Palur. Anak sulungku sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
Di RS Mojosongo, selain menerapkan pengobatan dengan biaya murah, kami juga telah membuat beberapa kegiatan. Misalnya, mengadakan pelatihan dan seminar penanganan pasca bedah. Pernah, kami menargetkan peserta seminar sebanyak 100 orang. Ternyata paramedis yang datang dari berbagai RS di Solo dan Yogyakarta membludak hingga 150 orang. Aku sampai kehabisan sertifikat.
Terakhir, seusai terpilih menjadi finalis Perempuan Inspiratif NOVA 2011, aku diwawancarai TV swasta. Sejak itu, kiprahku makin berkembang. Banyak rombongan dari berbagai institusi ingin bertemu denganku. Misalnya, pemilik sebuah RS dan dokter dari Lampung, ibu-ibu PKK, hingga rombongan dosen universitas. Aku juga kerap diminta jadi pembicara di kampus-kampus. Terang saja aku senang. Aku bisa tambah teman dan makin pintar karena bisa saling bertukar ilmu.
Begitulah sekilas kehidupanku. Semoga bisa menambah semangat dan membuahkan hikmah bagi yang membacanya. Amin.
(TAMAT)
Rini Sulistyati